Resistensi antimikroba (bahasa Inggris: Antimicrobial resistance atau AMR) terjadi ketika mikroba berevolusi sehingga memiliki mekanisme baru yang melindunginya dari efek antimikroba.[1]Resistensi antibiotik adalah salah satu bentuk dari AMR, khususnya menjadi kebalnya bakteri terhadap antibiotik.[1] Infeksi yang disebabkan oleh mikroba kebal lebih sulit untuk ditangani. Dosis obat antimikroba yang diberikan kepada pasien harus lebih besar atau digantikan dengan pilihan obat lain yang mungkin lebih toksik. Penyelesaian kasus AMR, dengan demikian, mungkin lebih mahal. Kekebalan mikroba terhadap banyak jenis antimikroba disebut sebagai resistensi obat ganda (multidrug resistant atau MDR).
Semua golongan mikroba dapat berevolusi dan menjadi kebal. Jamur berkembang menjadi kebal terhadap obat antijamur. Virus berkembang menjadi kebal terhadap obat antivirus. Protozoa menjadi kebal terhadap obat antiprotozoa. Bakteri menjadi kebal terhadap obat antibiotik. Bakteri yang sangat kebal terhadap obat (extensively drug resistant atau XDR) atau sepenuhnya kebal (totally drug resistant atau TDR) kadang disebut sebagai "superbug". Kekebalan bakteri dapat muncul secara alami karena mutasi genetik atau karena kekebalan yang ditransfer dari bakteri lain.[2] Di sisi lain, penggunaan jangka panjang antimikroba dapat mendorong seleksi mutasi. Kejadian ini dapat membuat antimikroba tidak efektif.
Pencegahan penyalahgunaan antibiotik, dengan tujuan pengendalian resistensi antibiotik, mencakup pemberian antibiotik hanya jika diresepkan.[3] Penggunaan antibiotik spektrum sempit lebih diutamakan daripada antibiotik spektrum luas jika mungkin. Menangani penyakit dengan menyasar organisme yang spesifik secara efektif dan akurat lebih sedikit menyebabkan kekebalan mikroba dan efek samping bagi pasien.[4] Individu yang menggunakan obat ini sebagai pasien rawat jalan (tidak dirawat inap) harus diajarkan penggunaan obat yang benar. Penyedia layanan kesehatan dapat mengurangi penyebaran infeksi resistan dengan sanitasi dan higienitas yang baik, antara lain dengan mencuci tangan yang baik dan desinfeksi pada para pasien. Hal ini juga didorong dilakukan oleh pasien, pengunjung, dan keluarga pasien.
Makna
Organisasi Kesehatan Dunia (Word Health Organization, WHO) mendefinisikan resistensi antimikroba sebagai resistensi mikroorganisme terhadap obat antimikroba yang sebelumnya dapat mengatasi infeksi karena mikroorganisme tersebut.[2] Seseorang tidak berubah menjadi resistan terhadap suatu antibiotik. Resistensi adalah kekebalan yang dimiliki oleh mikroba, bukan orang atau organisme lain yang terinfeksi oleh mikroba. Semua jenis mikroba dapat menjadi kebal terhadap obat. Maka dari itu, terdapat resistensi antibiotik, antijamur, antivirus, dan antiparasit.[5][6]
Resistensi antibiotik adalah salah satu jenis resistensi antimikroba. Resistensi ini berhubungan dengan bakteri sehingga dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu resistensi mikrobiologi dan klinis. resistensi mikrobiologi paling sering terjadi; resistensi ini disebabkan oleh kondisi gen, entah karena mutasi atau bawaan, yang menyebabkan bakteri kebal terhadap mekanisme pembunuhan mikroba dengan antibiotik tertentu. Resistensi klinis tampak pada kegagalan sejumlah teknik terapi ketika bakteri yang mudah terpengaruh oleh suatu perlakuan pada keadaan normal menjadi kebal setelah bertahan usai perlakuan tersebut. Jika kedua resistensi tersebut muncul tanpa indikasi bawaan (acquired resistance), bakteri dapat meneruskan katalis genetik resistensi melalui transfer gen horizontal: konjugasi, transduksi, atau transformasi. Kejadian ini memungkinkan penyebaran resistensi antarbakteri dengan spesies yang sama atau mirip.[7]
Sebab
Resistensi antimikroba disebabkan terutama oleh penggunaan berlebihan/kesalahan penggunaan antimikroba. Karena hal tersebut, mikroba yang kemudian memiliki pertahanan terhadap obat yang digunakan untuk menangani mikroba itu atau memiliki strain yang secara alami tahan terhadap antimikroba menjadi lebih banyak daripada mikroba yang dapat dikalahkan dengan mudah menggunakan obat. Walaupun resistensi antimikroba terjadi secara alami seiring waktu berjalan, penggunaan agen antimikroba pada berbagai kondisi baik dalam industri kesehatan maupun di luar itu berakibat pada resistensi antimikroba yang semakin banyak terjadi.[8]
Mikroba banyak menjadi resistan terhadap antibiotik seiring waktu melalui mutasi alami, peresepan antibiotik yang berlebihan dan yang tidak tepat mempercepat masalah itu timbul. Di Amerika Serikat pada tahun 2010 hingga 2011, satu dari tiga peresepan antibiotik mungkin tidak diperlukan.[9] Ditemukan hampir 154 juta peresepan antibiotik setiap tahun; hampir 46 juta resep di antaranya tidak diperlukan atau tidak tepat untuk kondisi pasien.[9] Mikroba dapat menjadi kebal secara alami melalui mutasi genetik yang muncul pada pembelahan sel. Walaupun mutasi secara acak jarang terjadi, banyak mikroba bereproduksi dalam frekuensi tinggi dan cepat, meningkatkan kemungkinan anggota populasi mengalami mutasi yang meningkatkan resistensi.[10] Banyak orang berhenti mengonsumsi antibiotik saat mulai merasa lebih baik. Pada saat itu, mikroba yang mungkin kurang terpengaruh oleh perlakuan obat masih ada dalam tubuh. Jika mikroba ini terus bereproduksi, pemberhentian konsumsi berujung pada infeksi bakteri yang kurang terpengaruh atau bahkan kebal terhadap antibiotik.[10]
Kejadian alami
Resistensi antimikroba dapat muncul secara alami karena pemaparan berkelanjutan terhadap antimikroba. Seleksi alam berarti organisme tertentu dapat beradaptasi terhadap lingkungan, bertahan, dan terus menghasilkan keturunan.[11] Karena itu, mikroorganisme yang dapat terus bertahan dari serangan agen antimikroba secara berkelanjutan akan menjadi lebih banyak secara alami di lingkungan dan mikroorganisme tanpa resistensi tersebut akan ketinggalan zaman.[8]
Sejumlah resistensi antimikroba kontemporer juga muncul secara alami sebelum penggunaan antimikroba pada manusia secara klinis. Misalnya, resistensi metisilin muncul pada patogen landak susu, kemungkinan sebagai adaptasi ko-evolusi patogen landak susu yang terinfeksi oleh mikroba dermatofit yang memproduksi antibiotik secara alami.[12] Di samping itu, bakteri dan jamur tanah banyak merupakan kompetitor alami sehingga antibiotik penisilin yang paling awal ditemukan oleh Alexander Fleming kehilangan efektivitas klinis dengan cepat untuk pasien manusia dan selanjutnya tidak satupun dari penisilin alami lain (F, K, N, X, O, U1, dan U6) digunakan pada kasus klinis sekarang ini.[butuh rujukan]
Resistensi antimikroba dapat diperoleh dari mikroba lain melalui pertukaran gen dalam proses yang disebut transfer gen horizontal. Ini berarti begitu suatu gen resistensi terhadap suatu antibiotik muncul pada suatu komunitas mikroba, gen tersebut dapat tersebar ke mikroba-mikroba lain dalam komunitas sesudah itu, kemungkinan berpindah dari mikroba yang tidak menyebabkan penyakit ke mikroba yang menyebabkan penyakit. Proses ini sangat dipicu oleh proses seleksi alam yang timbul pada penggunaan atau kesalahan penggunaan antibiotik.[13]
Seiring waktu berjalan, sebagian besar strain bakteri dan infeksi yang ada akan teridentifikasi sebagai jenis yang kebal terhadap agen antimikroba yang sebelumnya digunakan untuk menangani mereka, membuat agen ini tidak efektif untuk melawan sebagian besar mikroba. Seiring penggunaan agen antimikroba meningkat, proses alami ini terjadi lebih cepat.[14]
Swamedikasi
Swamedikasi konsumen dapat didefinisikan sebagai konsumsi obat-obatan atas keinginan sendiri atau saran orang lain yang bukan merupakan tenaga kesehatan. Swamedikasi ini diidentifikasi sebagai salah satu alasan utama evolusi resistensi mikroba.[15] Antibiotik tidak cocok digunakan dalam swamedikasi tetapi penggunaan ini umum dilakukan di negara-negara dengan sumber daya terbatas. Praktik ini memaparkan individu terhadap risiko bakteri yang sudah resistan antimikroba[16] Banyak orang memanfaatkan praktik ini karena terpaksa; kondisi yang mendorong hal tersebut antara lain akses dokter yang terbatas karena penutupan wilayah (lockdown) dan penutupan operasi dokter umum atau waktu dan uang pasien yang terbatas untuk bertemu dengan dokter pemberi resep.[17]
Swamedikasi lebih banyak di luar lingkungan rumah sakit, berhubungan dengan penggunaan antibiotik yang lebih tinggi. Dalam hal ini, penggunaan paling banyak di masyarakat, bukan rumah sakit. Prevalensi swamedikasi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah berkisar 8,1% hingga 93% menurut systematic review tahun 2019. Akses, keterjangkauan, dan fasilitas kesehatan serta perilaku dalam mengatasi masalah kesehatan adalah faktor yang mempengaruhi swamedikasi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah.[16] Terdapat dua masalah penting dalam swamedikasi, yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang efek berbahaya antimikroba tertentu (misalnya, siprofloksasin yang dapat menyebabkan tendonitis, ruptur tendon, dan diseksi aorta) dan tentang resistensi mikroba secara luas beserta waktu mencari layanan kesehatan jika infeksi tidak menunjukkan perubahan. Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat dan prasangka seputar resistensi antibiotik, dilakukan skrining artikel yang telah diterbitkan pada tahun 2017 di penjuru Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Secara keseluruhan, 55.225 orang berpartisipasi dalam survei menurut artikel-artikel tersebut. Di antaranya, 70% pernah mendengar tentang resistensi antibiotik dan 88% mengira bahwa resistensi antibiotik merupakan perubahan fisik pada tubuh manusia.[15]
Kesalahan penggunaan klinis
Kesalahan penggunaan oleh tenaga kesehatan berkontribusi dalam peningkatan resistensi antimikroba. Sejumlah penelitian yang diadakan di Amerika Serikat hingga tahun 2013 menunjukkan bahwa indikasi pengobatan dengan antibiotik, pilihan agen yang digunakan, dan durasi terapi bersifat tidak tepat pada hingga 50% kasus yang ditinjau.[18] Pada tahun 2010 dan 2011, sekitar sepertiga peresepan antibiotik bagi pasien rawat jalan di Amerika Serikat bersifat tidak diperlukan.[19] Sebuah penelitian di instalasi rawat intensif sebuah rumah sakit besar di Prancis menunjukkan bahwa 30% hingga 60% peresepan antibiotik tidak diperlukan.[18] Penggunaan agen antimikroba yang tidak tepat ini mendorong evolusi resistensi antimikroba dengan mendukung bakteri mengembangkan perubahan genetik yang dapat menghasilkan resistensi.[20]
Menurut penelitian yang diselenggarakan di Amerika Serikat pada tahun 2019 dengan tujuan mengevaluasi sikap dan pengetahuan dokter tentang resistensi antimikroba pada pelayanan rawat jalan, hanya 63% dokter berpendapat bahwa resistensi antibiotik adalah masalah dalam praktik lokal dan 23% berpendapat bahwa peresepan antibiotik yang agresif diperlukan untuk menghindari kegagalan penyediaan layanan yang adekuat.[21] Temuan ini menggambarkan kondisi sebagian besar dokter yang merendahkan dampak kebiasaan peresepan mereka terhadap resistensi antimikroba secara keseluruhan. Ini juga mengonfirmasi bahwa sejumlah dokter mungkin terlalu berhati-hati, meresepkan antibiotik baik untuk kepentingan medis maupun hukum walau indikasi klinis penggunaan obat yang diresepkan tidak selalu dapat dikonfirmasi. Hal ini dapat berakibat penggunaan antimikroba yang tidak diperlukan, pola yang mungkin memburuk selama pandemi Covid-19.[22][23]
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kesalahpahaman tentang efektivitas dan keperluan atas antibiotik dalam penanganan penyakit ringan berkontribusi dalam penggunaan berlebihan antibiotik.[24]
Penggunaan antibiotik pada sistem veteriner mendapatkan perhatian khusus. Pengawasan praktik kedokteran hewan untuk antibiotik yang penting secara medis ditetapkan dalam peraturan hukum.[25] Untuk memastikan dosis obat yang diberikan pada suatu rute dan waktu benar, para dokter hewan menggunakan model farmakokinetik/farmakodinamik.[26]
Pandemi, disinfektan, dan sistem kesehatan
Peningkatan penggunaan antibiotik pada gelombang awal pandemi Covid-19 diperkirakan memperparah tantangan kesehatan global.[27] Terlebih lagi, beban pandemi pada sistem layanan kesehatan diperkirakan berkontribusi dalam infeksi resistan antibiotik.[28] Di sisi lain, "peningkatan higienitas tangan, penurunan perjalanan internasional, dan penurunan prosedur elektif rumah sakit diperkirakan menurunkan seleksi dan penyebaran patogen resistan antimikroba jangka pendek" selama pandemi Covid-19.[29] Penggunaan disinfektan seperti pembersih tangan berbasis alkohol dan bahan pencuci tangan juga diperkirakan berpotensi meningkatkan resistensi antimikroba.[30] Penggunaan disinfektan secara besar-besaran dapat berakibat mutasi pemicu resistensi antimikroba.[31]
Polusi lingkungan
Limbah yang dialirkan tanpa pemrosesan dari industri manufaktur farmasi,[32] rumah sakit dan klinik, serta pembuangan tidak tepat obat-obatan yang tak digunakan atau kedaluwarsa dapat menyebabkan pemaparan mikroba di lingkungan terhadap antibiotik dan memicu evolusi resistensi.[butuh rujukan]
Produksi pangan
Ternak
Krisis resistensi antimikroba juga menjangkau industri pangan, terutama hewan penghasil pangan. Seiring peningkatan populasi manusia, terdapat tekanan untuk meningkatkan produktivitas berbagai sektor agrikultur,termasuk produksi daging sebagai sumber protein.[33] Hewan ternak diberi antibiotik sebagai suplemen pertumbuhan dan pencegahan infeksi.[34]
Peternak biasa menambahkan antibiotik pada pakan ternak untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan dan mencegah infeksi. Namun, praktik ini tidak berdasar pada pertimbangan logis karena antibiotik berguna dalam menangani infeksi, bukan mencegah infeksi. Di Amerika Serikat, 80% penggunaan antibiotik ditujukan untuk kepentingan agrikultur dan sekitar 70% darinya bersifat penting dari segi medis.[35] Penggunaan berlebihan antibiotik menyediakan waktu bagi bakteri untuk beradaptasi sehingga infeksi harus dilawan dengan dosis yang lebih tinggi atau antibiotik yang lebih kuat. Walaupun promosi pertumbuhan dengan antibiotik dilarang di Uni Eropa pada tahun 2006, empat puluh negara di penjuru dunia masih menggunakan antibiotik untuk promosi pertumbuhan pada awal tahun 2020-an.[36]
Penggunaan berlebihan antibiotik pada pekan ternak seperti demikian menyebabkan transfer strain bakteri yang resistan ke makanan konsumsi manusia, berujung pada transfer penyakit yang mungkin mematikan. Praktik penggunaan antibiotik untuk promosi pertumbuhan tersebut memang menghasilkan panen dan produk daging yang lebih baik tetapi praktik tersebut menjadi masalah besar dan perlu dikurangi untuk mencegah resistensi antimikroba.[37] Walaupun bukti yang menghubungkan penggunaan antimikroba pada ternak dengan resistensi antimikroba terbatas, Kelompok Penasihat Surveilans resistensi Antimikroba Terintegrasi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization Advisory Group on Integrated Surveillance of Antimicrobial Resistance) sangat menganjurkan reduksi penggunaan antimikroba penting medis pada ternak. Selanjutnya, Kelompok Penasihat tersebut menyatakan bahwa antimikroba dengan tegas dilarang untuk promosi pertumbuhan dan pencegahan penyakit pada hewan penghasil pangan.[38]
Berdasarkan pemetaan konsumsi ternak global, diperkirakan terdapat peningkatan konsumsi antibiotik pada ternak sebanyak 67% di 228 negara pada tahun 2030. Diperkirakan terdapat peningkatan 99% pada sejumlah negara seperti Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.[14] Beberapa negara telah membatasi penggunaan antibiotik pada ternak, termasuk Kanada, Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat. Pembatasan ini biasanya berhubungan dengan penurunan prevalensi resistensi antimikroba pada manusia.[38]
Pada tahun 2017, Veterinary Feed Directive (VFD, Aturan Pakan Hewan) berlaku di Amerika Serikat. Konsep perizinan tersebut dipakai sesuai dengan pernyataan bahwa semua antibiotik penting dalam medis yang akan digunakan dalam pakan atau air untuk spesies hewan pangan harus diadakan sesuai VFD atau resep.[39]
Pestisida
Sebagian besar pestisida melindungi tanaman dari serangga dan tumbuhan lain, pestisida antimikroba sendiri digunakan untuk melawan mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, alga, dan protozoa. Penggunaan berlebihan banyak pestisida agar hasil panen tinggi menyebabkan banyak mikroba dapat menoleransi agen antimikroba. Pada tahun 2020-an, terdapat lebih dari empat ribu pestisida antimikroba pada daftar Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (Environmental Protection Agency, EPA) yang diketahui beredar di pasaran, menunjukkan tersebarluasnya agen antimikroba ini.[40] Berdasarkan studi yang diterbitkan pada tahun 2019, 90% penggunaan pestisida berada pada sektor agrikultur maka diperkirakan bahwa digunakan 0,3 gram pestisida pada tiap hidangan yang dikonsumsi oleh masing-masing individu. Sebagian besar produk pestisida ini digunakan untuk melawan penyebaran penyakit menular dan oleh karenanya diharapkan melindungi kesehatan masyarakat. Namun demikian, diperkirakan kurang dari 0,1% agen antimikroba benar-benar tepat sasaran. Dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa lebih dari 99% seluruh pestisida yang digunakan dapat mengontaminasi sumber daya lain.[41] Agen-agen antimikroba tersebut dapat menyebar pada tanah, udara, dan air, bertemu dengan mikroorganisme lain dan menyebabkan kemunculan mekanisme mikroba-mikroba tersebut dalam menoleransi dan selanjutnya bertahan melawan pestisida. Penggunaan pestisida antijamur azol yang menyebabkan resistensi azol di alam bebas berhubungan dengan kasus resistensi azol pada kondisi klinis.[42] Masalah yang sama dapat ditimpakan pada kelas antijamur baru seperti orotomida yang juga digunakan baik pada lingkungan klinis dan agrikultur.[43]
Transfer gen mikroorganisme purba
Ibun abadi ialah tanah manapun yang beku selama dua tahun atau lebih, sejumlah ibun abadi tertua yang diketahui telah beku selama sekitar 700 ribu tahun.[44] Pada beberapa dekade hingga 2020-an, ibun abadi mencair dengan cepat karena perubahan iklim. Suhu dingin mengawetkan zat organik dalam ibun abadi maka mikroorganisme mungkin kembali hidup setelah tanah itu mencair. Meskipun sejumlah patogen umum seperti influenza, variola, atau bakteri yang menyebabkan pneumonia tidak dapat bertahan dalam percobaan menghidupkan mereka kembali,[45] mikroorganisme yang lebih mampu beradaptasi dalam suhu dingin, seperti antraks, sejumlah tumbuhan purba, dan virus amuba, berhasil bertahan dalam pencairan jangka panjang.[46][47][48][49][50]
Sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa ketidakmampuan agen penyebabpenyakit menular yang telah diketahui dalam bertahan setelah dibekukan dan dicairkan membuat ancaman mikroorganisme purba tidak begitu nyata. Namun menurut mereka, bakteri patogen modern mungkin berinteraksi dengan mikroorganisme purba lalu mendapatkan sekuen genetik yang berhubungan dengan resistensi antimikroba melalui transfer gen horizontal, memperparah masalah yang sudah menyulitkan.[51] Studi tahun 2021 menunjukkan bahwa sejumlah antibiotik telah dapat ditoleransi sebagian oleh bakteri ibun abadi, antara lain kloramfenikol, streptomisin, kanamisin, gentamisin, tetrasiklin, spektinomisin, dan neomisin.[52] Namun demikian, sejumlah studi lain menunjukkan bahwa tingkat resistensi bakteri purba terhadap antibiotik modern masih lebih rendah jika dibandingkan dengan bakteri kontemporer yang ditemukan pada lapisan aktif tanah yang mencair di atas bakteri purba,[53] hal ini mungkin berarti risiko akibat mikroorganisme ibun abadi "tidak lebih besar" daripada tanah lain.[54]
Pencegahan
Terdapat peningkatan panggilan publik untuk tindakan kolektif dunia dalam menghadapi ancaman resistensi antimikroba, termasuk proposal perjanjian internasional tentang resistensi antimikroba. Rincian dan perhatian lebih lanjut masih perlu diadakan dalam mengenali dan mengukur tren resistensi pada tingkat internasional; ide sistem pelacakan global telah diajukan tetapi implementasi masih belum tercapai. Sistem dalam hal ini dapat menyediakan pengetahuan yang dalam akan wilayah dengan resistensi tinggi dan informasi yang dibutuhkan dalam mengevaluasi program, memperkenalkan pencegahan, dan perubahan lain yang dibuat untuk melawan atau membalikkan resistensi antibiotik.[55][56]
Durasi antimikroba
Penundaan atau minimalisasi penggunaan antibiotik untuk kondisi tertentu dapat membantu menurunkan penggunaan antibiotik dengan aman.[57] Durasi pengobatan antimikroba dianjurkan berpatokan pada infeksi dan masalah kesehatan lain yang diderita seseorang. Dalam hal sebagian besar infeksi, jika seseorang sudah membaik, sedikit bukti menunjukkan bahwa pemberhentian pengobatan menyebabkan resistensi. Maka dari itu, sebagian orang merasa bahwa pemberhentian lebih awal masuk akal pada beberapa kasus. Namun, infeksi lain menunjukkan kebutuhan pengobatan dengan waktu yang lebih panjang walau penderita merasa lebih baik.[butuh rujukan]
Penundaan antibiotik untuk penyakit ringan seperti sakit tenggorokan dan otitis media dapat disimpulkan tidak memiliki tingkat komplikasi yang berbeda dengan penggunaan antibiotik secara langsung.[58] Dalam penanganan infeksi saluran pernapasan, penilaian klinis dibutuhkan dalam memutuskan penanganan yang tepat (dalam memilih pengunaan antibiotik langsung atau tertunda).[58]
Penelitian "Shorter and Longer Antibiotic Durations for Respiratory Infections: To Fight Antimicrobial Resistance—A Retrospective Cross-Sectional Study in a Secondary Care Setting in the UK" (Durasi Panjang dan Pendek Antibiotik pada Infeksi Pernapasan: Melawan resistensi Antimikroba—Studi Lintas-Seksi Retrospektif pada Layanan Sekunder di UK) menyoroti urgensi evaluasi kembali durasi pengobatan antibiotik di tengah tantangan resistensi antimikroba global. Penelitian ini menyelidiki efektivitas regimen antibiotik berdurasi pendek versus panjang pada infeksi saluran pernapasan pada layanan kesehatan sekunder Inggris, menekankan keperluan praktik peresepan berdasarkan bukti untuk optimalisasi luaran pasien dan untuk melawan resistensi antimikroba.[59]
ResistanceOpen adalah peta resistensi antimikroba global dalam jaringan yang dikembangkan oleh HealthMap. Peta ini menampilkan agregasi data resistensi antimikroba yang tersedia bagi publik dan data yang dikumpulkan oleh pengguna.[61][62] Situs ini dapat menampilkan data dengan radius 40 km dari sebuah tempat. Pengguna dapat mengumpulkan data dari antibiogram masing-masing rumah sakit atau laboratorium. Data Eropa berasal dari EARS-Net (European Antimicrobial Resistance Surveillance Network), bagian Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa. ResistanceMap adalah situs One Health Trust (sebelumnya Pusat Dinamika, Ekonomi, dan Kebijakan Ekonomi, Center for Disease Disease Dynamics, Economics & Policy) yang menyediakan data resistensi antimikroba tingkat global.[butuh rujukan]
Terdapat kekurangan program pemantauan resistensi antijamur nasional dan internasional.[63]
Pembatasan penggunaan antimikroba pada manusia
Program penatagunaan antimikroba (antimicrobial stewardship, AMS) tampak berguna dalam menurunkan tingkat resistensi antimikroba.[64] Program ini juga menyediakan pengetahuan bagi apoteker dalam edukasi pasien, misalnya tentang kenyataan bahwa antibiotik tidak dapat menangani virus.[65]
Penggunaan berlebihan antimikroba menjadi salah satu sebab utama evolusi resistensi antimikroba. Sejak permulaan era antimikroba, antimikroba sudah digunakan untuk menangani banyak macam penyakit menular.[66] Yang menjadi masalah utama adalah kemauan dokter dalam meresepkan antimikroba kepada individu yang tidak cukup berpengetahuan dan percaya bahwa antimikroba dapat menyembuhkan hampir semua penyakit, termasuk infeksi virus seperti flu dan pilek biasa. Dalam analisis peresepan obat pada tahun 1999, 36% individu dengan pilek atau infeksi saluran pernapasan atas (keduanya biasa disebabkan oleh virus) menerima resep antibiotik.[67] Satu-satunya hal yang terjadi sebagai akibatnya adalah peningkatan risiko evolusi lebih lanjut bakteri resistan antibiotik.[68] Penggunaan antimikroba tanpa resep adalah pendorong lain penggunaan berlebihan antibiotik untuk penyakit yang diobati sendiri oleh penderita seperti flu, batuk, demam, dan disentri sehingga epidemi resistensi antibiotik terjadi di berbagai negara seperti Banglades dengan risiko penyebaran ke seluruh dunia.[butuh rujukan]Pengenalan penatagunaan antibiotik yang ketat pada layanan rawat jalan untuk menurunkan peresepan antibiotik yang tidak tepat dapat menurunkan kekebalan bakteri yang bermunculan.[69]
Pedoman AWaRe (Access, Watch, Reserve) Organisasi Kesehatan Dunia dan buku antibiotiknya diperkenalkan untuk menjadi landasan pilihan antibiotik pada tiga puluh infeksi yang umum pada dewasa dan anak-anak untuk menurunkan peresepan tidak tepat di layanan primer dan rumah sakit. Antibiotik spektrum sempit dipilih karena kemungkinan resistensi yang rendah sementara antibiotik spektrum luas hanya direkomendasikan bagi pasien dengan gejala yang lebih parah. Sejumlah antibiotik lebih mungkin menghasilkan resistensi sehingga disimpan sebagai cadangan pada buku AWare.[70]
Berbagai strategi diagnosis diterapkan untuk mencegah penggunaan berlebihan terapi antijamur pada kondisi klinis, membuktikan pilihan lain dari terapi antijamur empiris, mendukung skema penatagunaan antijamur.[71]
Tingkat rumah sakit
Tim penatagunaan antimikroba di rumah sakit mendorong penggunaan antimikroba yang optimal.[72] Tujuan penatagunaan antimikroba ialah menolong para praktisi memilih obat yang tepat dengan dosis dan durasi terapi yang tepat seraya mencegah kesalahan penggunaan dan meminimalisasi perkembangan resistensi. Intervensi penatagunaan dapat menurunkan lama rawat inap dengan rata-rata sedikit lebih dari satu hari tanpa meningkatkan risiko kematian.[73]
Tingkat layanan primer
Volume layanan yang disediakan di fasilitas kesehatan primer menyebabkan strategi berkembang menjadi berfokus pada menurunkan peresepan antimikroba pada tingkat ini pada tahun 2010-an. Pencegahan sederhana seperti informasi tertulis tentang waktu penggunaan antibiotik tidak diperlukan pada infeksi biasa saluran pernapasan atas didapati menurunkan peresepan antibiotik.[74] Tenaga kesehatan juga dibantu oleh beragam alat dalam memutuskan keperluan peresepan antimikroba.
Prasangka orang tua yang didorong oleh kekhawatiran atas kesehatan anak mereka dapat mempengaruhi seberapa sering anak-anak mendapatkan resep antibiotik. Para orang tua sering mengandalkan nasihat dan penghiburan dokter. Namun demikian, kerumitan bahasa dalam pemberian informasi dan ketidakcukupan waktu konsultasi berakibat negatif pada hubungan orang tua dan dokter. Maka dari itu, orang tua sering bersandar pada pengalaman yang telah lalu dalam pembentukan prasangka, bukan bersandar pada penghiburan dokter. Waktu konsultasi yang adekuat dan bahasa yang sederhana dalam pemberian informasi dapat membantu orang tua membuat keputusan setelah penjelasan dan menghindari penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan.[75]
Pemberi resep obat dianjurkan mematuhi prinsip lima tepat pemberian obat dengan ketat: tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat rute, dan tepat waktu.[76] Pengambilan sampel mikrobiologi dianjurkan untuk pembuatan kultur dan uji sensitivitas sebelum penanganan kondisi pasien sesuai dengan indikasi dan kemungkinan penanganan diubah tergantung laporan kerentanan.[77][78]
Tenaga kesehatan dan apoteker dapat membantu mengatasi resistensi antibiotik dengan memperkuat pencegahan dan pengendalian infeksi; meresepkan dan memberikan antibiotik hanya jika benar-benar dibutuhkan; serta meresepkan dan memberikan antibiotik yang tepat pada penanganan penyakit.[79]
Tingkat individu
Masyarakat dapat membantu mengatasi resistensi dengan menggunakan antibiotik hanya jika terkena penyakit menular akibat bakteri dan diberi resep oleh dokter; menghabiskan obat sesuai resep walau pengguna sudah merasa lebih baik, tidak menggunakan antibiotik yang diperoleh bersama dengan penderita yang lain, dan tidak menggunakan resep dengan obat yang tersisa.[80] Penggunaan antibiotik jika tidak dibutuhkan ialah tidak menguntungkan pengguna, justru memberi kesempatan bagi bakteri agar beradaptasi dan membuat pengguna menderita efek samping golongan antibiotik tertentu.[81] Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Center for Disease Contol and Prevention, CDC) menganjurkan sejumlah perilaku agar dapat menghindari efek samping negatif dan menjaga masyarakat dari penyebaran bakteri resistan obat.[81] Praktik arahan dalam pencegahan infeksi bakteri, seperti higienitas, juga membantu mencegah penyebaran bakteri resistan antibiotik.[butuh rujukan]
Air, sanitasi, higiene
Pengendalian penyakit menular melalui perbaikan infrastruktur air, sanitasi, dan higiene (water, sanitation, and hygiene, WASH) perlu turut digabungkan dalam agenda resistensi antimikroba. Pada tahun 2018, Interagency Coordination Group on Antimicrobial Resistance (IACG, Kelompok Koordinasi Antarlembaga untuk Resistensi Antimikroba) PBB menyatakan bahwa "penyebaran patogen melalui air yang tidak aman mengakibatkan beban tinggi penyakit saluran pencernaan, meningkatkan kebutuhan akan penanganan antibiotik lebih lanjut".[butuh rujukan]Hal ini merupakan masalah khusus di negara-negara berkembang di mana penyebaran penyakit menular karena standar WASH yang tidak cukup baik menjadi pemicu utama permintaan antibiotik.[butuh rujukan]Dengan demikian, peningkatan penggunaan antibiotik bersamaan dengan keberadaan penyakit menular dalam tingkat tertentu secara terus-menerus ditemukan berujung pada siklus berbahaya:kebergantungan kepada antimikroba meningkat sedangkan efikasi obat menghilang. Sementara itu, penggunaan WASH yang tepat dapat menghasilkan penurunan 47-72% kasus diare yang ditangani dengan antibiotik sesuai jenis intervensi dan efektivitasnya. Penurunan beban penyakit diare melalui perbaikan infrastruktur dapat menghasilkan penurunan kasus diare yang ditangani dengan antibiotik dalam jumlah besar. Penurunan ini diperkirakan berkisar lima juta di Brazil hingga 590 juta di India pada tahun 2030. Hubungan kuat antara peningkatan konsumsi dan resistensi menunjukkan bahwa penurunan ini akan memitigasi peningkatan penyebaran resistensi antimikroba secara langsung. Sanitasi dan air untuk semua pada tahun 2030 adalah Tujuan Nomor 6 pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.[82]
Peningkatan kepatuhan pekerja di rumah sakit dalam mencuci tangan menghasilkan penurunan tingkat resistensi organisme.[83]
Infrastruktur penyediaan air dan sanitasi di fasilitas kesehatan menawarkan manfaat tambahan yang penting dalam melawan resistensi antimikroba sehingga IACG PBB menyarankan agar investasi untuk itu perlu ditingkatkan.[butuh rujukan]Sejumlah hal dapat diperbaiki berkenaan dengan infrastruktur ini: WHO dan UNICEF memperkirakan bahwa 38% fasilitas kesehatan tidak memiliki sumber air, hampir 19% tidak memiliki kakus, serta 35% tidak memiliki air dan sabun atau pembersih tangan dengan basis alkohol untuk mencuci tangan pada tahun 2015 di seluruh dunia.[84]
Pengolahan air limbah industri
Pabrik manufaktur antimikroba perlu memperbaiki pengolahan air limbah dengan berbagai proses pada skala industri untuk menurunkan pelepasan residu ke lingkungan.[butuh rujukan]
Pembatasan penggunaan antimikroba pada hewan dan pertanian
Penggunaan antibiotik pada hewan ternak telah diketahui meningkatkan resistensi antimikroba bakteri yang ditemukan pada hewan pangan yang telah diberi antibiotik melalui suntikan atau pakan.[85] Oleh karena itu, antimikroba yang diperbolehkan pada hewan ternak hanyalah mereka yang dianggap tidak penting secara klinis.
Berbeda dengan resistensi terhadap antibakteri, resistensi antijamur dapat disebabkan oleh pertanian pada lahan tanah. HIngga tahun 2022, tidak ada regulasi tentang penggunaan golongan obat antijamur yang mirip pada bidang pertanian dan klinis.[86][87]
Akibat
Menurut catatan WHO pada tahun 2019, saat ini kematian akibat resistensi antimikroba secara langsung mencapai 1,7 juta orang per tahun, dan secara keseluruhan mencapai 4,97 juta orang per tahun. Catatan terbesar kasus ini disumbangkan oleh resistensi tuberkulosis.[88]
Arias CA, Murray BE (January 2009). "Antibiotic-resistant bugs in the 21st century--a clinical super-challenge". The New England Journal of Medicine. 360 (5): 439–43. doi:10.1056/NEJMp0804651. PMID19179312.Parameter |s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
Goossens H, Ferech M, Vander Stichele R, Elseviers M (2005). Esac Project. "Outpatient antibiotic use in Europe and association with resistance: a cross-national database study". Lancet. Group Esac Project. 365 (9459): 579–87. doi:10.1016/S0140-6736(05)17907-0. PMID15708101.Parameter |s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan)
Cooke P, Rees-Roberts D (2017). CATCH. 16-minute film about a post-antibiotic world. Review: Sansom C (March 2017). "Media Watch: An intimate family story in a world without antibiotics". Lancet Infect Dis. 17 (3): 274. doi:10.1016/S1473-3099(17)30067-1.