Mara adalah pohon berukuran sedang, tingginya mencapai 20-25 m, dengan batang bebas cabang 10-15 m. Batangnya tegak, sementara Heyne (1917) mengatakan batangnya bengkok. Adapun, tebal batang 20–50 cm.[3][5] Mara tergolong sebagai pohon lapis bawah yang tumbuh di bawah kanopi hutan.[2]Diameter batang mara mencapai 55 cm dan tidak berbanir. Kulit batang berwarna agak abu-abu atau cokelat muda, berambut apabila tumbuh di dataran rendah atau gundul seumpama tumbuh di pegunungan. Tajuk pohon tidak lebat. Daunnya berjenis tunggal berbentuk hati agak bulat, bertangkai nyata yang berwarna coklat kotor, dan sewaktu masih muda, mengeluarkan cairan berwarna merah-darah.[5]
Duduk daun berselang-seling, berurat kentara, daun muda berambut halus.[6]Bunga berdiameter 0,5 mm, hijau kekuningan, tumbuh beramai-ramai dalam daun pelindung yang terdapat dalam malai yang berbulu. Buah berukuran 10 mm, berwarna ungu-kekuningan, bercangap 2, dan termasuk buah kotak sejati yang memecah (dehiscent), yang berbentuk bulat dan berpasangan,[5] ditumbuhi dengan duri; sedangkan di dalam bijinya, terdapat kulit biji yang berwarna hitam.[2]Macaranga tanarius berbunga dan berbuah sepanjang tahun.[5]
Kayu mara mempunyai BJ 0.56, kelas keawetannya III. Ia memiliki nilai yang cukup baik serta umum diperdagangkan sebagai bahan bangunan, terutama untuk dinding, dan kayu bakar.[5] Oleh sebab itu, penduduk lokal perkampungan di Indonesia menggunakan kayu mara untuk pembangunan rumah.[2]Kayunya ringan, tidak tahan lama, tipis, dan umum di Sumatera Selatan dipergunakans sebagai alat-alat rumah-tangga. Di Lampung -sebagaimana pernyataan Heyne pada tahun 1917- bahwa di sana, mara dipergunakan sebagai alat perambat bagi lada. Di Kedu, Johannes Müller Argoviensis yang dinukilkan oleh Heyne dari S.H. Koorders dan Th. Valeton bahwasanya di sana, mara dipergunakan untuk bahan anyaman untuk membuat mendong.[3][6]
Rebusan kulit batang dipergunakan sebagai obat untuk berak darah juga untuk pengobatan dalam menyembuhkan orang mabuk dengan mencampur bahan lain dan terkadang dipakai dalam membuat tuak. Akarnya dipakai untuk obat demam. Tanin yang didapat dari kulit batang digunakan untuk menyamak jalaikan dan mengecat. Bisa juga untuk mewarnai tikar menjadi hitam.[6] Caranya, kupas kulit mati mara, rebus dalam air, masukkan benang jaring, dan direbus sebanyak dua-tiga kali. Atau untuk mengecat, biasanya mara direbus bersama dengan kunyit dan kelapa parut. Jala yang memakai mara sebagai penyamaknya, pastilah akan tahan akan airlaut walaupun sering dipakai mengail/mencari ikan. Cairan yang dikeluarkan oleh batang dipergunakan sebagai perekat layaknya merkubung.[2][5]
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mara mengandung beberapa zatkimia, semisal tanariflavonona A & B (tanariflavonones), dan (-)-nimfeol-C ((-)-nymphaeol-C). Ketiga zat ini diambil dari dedaunan mara pada tahun 2001.[8] Kemudian, pada tahun 2008, telah diisolasi beberapa zat dari daun mara; yakni macaraflavona A-G (macaraflavones A-G).[9] Selain telah diisolasi 3 zat yang didapat dari daun mara pada tahun 2005 bahwasanya 3 zat telah diisolasi, misalnya tanarifuranonol, dan tanariflavonona C & D.[10]
Penamaan & taksonomi
Mara diperbanyak dengan jalan menanam biji[6] dan cara lain belum pernah dicoba. Sampai tahun 1981, tumbuhan ini belum pernah dipakai sebagai tanamanreboisasi, walaupun mara dapat tumbuh di tempat dengan iklim dan jenis tanah yang beragam. Penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan ini jarang mati walaupun di musim kemarau atau dengan dahan yang sering dipotong.[5] Kemudian, Heyne juga mengungkap bahwa ada jenis pohon mara (apakah itu forma mara yang lain?) yang mana, batang mara ada yang merah atau putih, juga yang bentuknya menyerupai semak-semak berukuran tinggi atau pohon kecil, ada juga yang berbatang tidak lebih tebal daripada pahamanusia.[3]
Deskripsi pertama mengenai tumbuhan ini sesungguhnya dibuat oleh Rumphius, yang menamainya sebagai Tanarius minor, atau dalam bahasa Belanda, de kleine Taan-boom (pohon tanin kecil).[11]Carolus Linnaeus, dalam ulasan ringkasnya mengenai Herbarium Amboinense, mengganti nama ilmiahnya menjadi Ricinus tanarius[4] dan beruntung mendapat kehormatan sebagai 'pemberi nama' yang pertama.
Galeri
Daun muda berambut pendek rapat, daun-daun penumpu tegak meruncing
Daun-daun semai
Pertulangan pola sarang laba-laba, dengan kelenjar nektar dekat tepi
^ abcdPurwaningsih & S. Sukardjo. 1991. "Macaranga tanarius (L.) Muell. Arg." In: R.H.M.J. Lemmens and N. Wulijarni-Soetjipto (Eds). Plant Resources of South-East Asia No. 3: Dye and tannin-producing plants: 88-9. Pudoc, Wageningen, The Netherlands. ((Internet) RecordDiarsipkan 2016-11-11 di Wayback Machine. from Proseabase)
^Phommart, Suporn; Sutthivaiyakit, Pakawadee; Chamnoi, Nitirat; Ruchirawat, Somsak; Sutthivaiyakit, Somyote (2005). "Constituents of the Leaves of Macaranga tanarius"(PDF). J. Nat. Prod. 68 (6): 927-930. doi:10.1021/np0500272. Diarsipkan dari versi asli(PDF) tanggal 2016-03-05. Diakses tanggal 2013-09-07.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)