Pada tahun 1892, misionarisBelanda bernama Albertus Christiaan Kruyt tiba di Poso untuk menjalankan misinya. Saat itu, penduduk yang telah menetap berada di daerah Sayo (sekarang di Kelurahan Sayo) yang merupakan tempat pendaratan perahu dari muara Sungai Poso. Pada tanggal 5 September 1894, keadaan sempat tidak aman akibat perseteruan antar suku, dan hal ini membuat Kruyt meminta Pemerintah Hindia Belanda untuk mengatasi keadaan dan menempatkan aparatnya di daerah Poso yang dipimpin oleh kontrolir wilayah Teluk Tomini bagian selatan yang berkedudukan di Mapane. Pada tanggal 1 Maret 1895, kedudukan kontrolir dipindahkan ke wilayah kota Poso yang sekarang ini.[3]
Pada tahun 1940-an, Poso sebagai salah satu afdeling dari Daerah Otonom Sulawesi Tengah direkomendasikan untuk menjadi pusat pemerintahan (ibu kota) Daerah Sulawesi Tengah, sesuai keputusan Konfederasi Raja-raja Sulawesi Tengah. Rekomendasi ini terwujud pada tahun 1946.[4] Pertemuan lanjutan yang dipelopori oleh Magau Palu, Tjatjo Idjazah, diadakan di Parigi pada tanggal 27 November hingga 2 Desember tahun 1948. Keputusan ini diperkuat dengan surat permohonan yang ditujukan kepada Perdana MenteriNegara Indonesia Timur, Ida Anak Agung Gde Agung, yang dikeluarkan pada tanggal 8 Februari 1949.[5]
Pada masa kemerdekaan Indonesia, Kota Poso yang berkembang pesat juga disebabkan oleh program transmigrasi ke daerah tersebut dari daerah-daerah lainnya di Indonesia. Hingga kemudian dari keberagaman tersebut terbentuk sebuah kelompok etnis yang dikenal sebagai suku Poso Pesisir.[6]
Masyarakat
Masyarakat Poso Pesisir merupakan kelompok etnis yang memiliki kebudayaan yang beragam. Hal ini didasari oleh Kota Poso sebagai tempat migrasi oleh berbagai kelompok etnis lain selain suku Pamona dan Lage sebagai masyarakat asli.[7]
Agama
Islam merupakan agama mayoritas dari orang Poso Pesisir. Penyebaran Islam di wilayah Poso telah dilakukan sebelum masa kolonial Belanda. Selain Islam, orang Poso Pesisir juga memiliki penganut Kekristenan yang cukup signifikan, khususnya Protestan. Penyebaran Kristen di wilayah ini dimulai sejak zaman kolonial Belanda, dimana para misionaris mulai menyebarkan ajarannya kepada penduduk asli.[8][9]
Bahasa yang dituturkan oleh mayoritas orang Poso Pesisir saat ini adalah bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai basantara di wilayah Poso. Selain bahasa Indonesia, masyarakat Poso juga menuturkan bahasa Poso Pesisir (Pantai Bare'e[10]) yang masih memiliki kaitan erat dengan bahasa Pamona dan dianggap sebagai dialeknya, serta mendapat pengaruh signifikan dari bahasa Bugis.[11][12]