Maaher At-Thuwailibi
Soni Eranata, S.Pd. atau lebih dikenal Ustaz Maaher At-Thuwailibi (14 Juli 1992 – 8 Februari 2021)[1] adalah seorang pendakwah yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Maaher aktif menyampaikan dakwahnya di berbagai platform sosial media, seperti Youtube, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Pada 2020, ia memutuskan untuk berdakwah di aplikasi Tiktok. Kehidupan pribadiNama asli Maaher adalah Soni Eranata. Soni lahir di Medan, 14 Juli 1992. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Orang tuanya bukan seorang pendakwah sepertinya, melainkan pekerja biasa. Meskipun lahir dan besar di Medan, Soni memutuskan untuk merantau dan tinggal di Bogor.[2] Saat menjadi santri, Soni menyetor bacaan Alquran dengan nada yang mirip Syekh Maher Al-Muaiqly. Mendengar hal tersebut, gurunya menjulukinya “Maaher At-Thuwailibi” yang hingga kini dikenal sebagai nama penanya. Ustaz Maaher dikenal publik sebagai pendakwah yang keras dan gahar.[3] Di samping itu, ia juga dianggap sebagai pribadi yang humoris. Ustadz Maaher memiliki banyak akun sosial media antara lain Youtube, Twitter, Instagram, dan Tiktok. Dalam salah satu video di kanal Youtube-nya, Maaher pernah melakukan aksi sosial dengan memberikan bantuan kepada warga yang kurang mampu di masa pandemi. Covid-19.[4] Maaher diketahui tinggal di Bogor bersama seorang istri dan dua anak laki-laki. Pemasukan sehari-harinya berasal dari ceramah dan tablig akbar. Akan tetapi, ia juga menambah penghasilan dengan berjualan parfum dan kitab keagamaan.[2] Dalam berdakwah, dia biasa mengenakan gamis berwarna putih dan ghutrah (serban khas Arab Teluk). Selain itu, Ustaz Maaher juga memiliki kedekatan dengan beberapa tokoh agama di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Ustaz Abdul Somad (UAS) dan kerap kali keduanya berada dalam satu panggung ceramah, Habib Rizieq Shihab, Haikal Hassan, Derry Sulaiman, dan Ahmad Al-Habsy. PendidikanMaaher sempat berkuliah di Al-Hidayah, Bogor. Namun, tidak selesai. Maaher melanjutkan kuliahnya di Universitas Ibn Khaldun (UIK), Bogor dan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam hingga lulus sebagai sarjana.[2][5] KontroversiPada 16 November 2020, Maaher dilaporkan ke Bareskrim Polri, atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elekronik dan/atau ujaran kebencian, dengan barang bukti berupa tangkapan layar cuitan Maaher yang diduga mengandung ujaran kebencian dan bernada SARA terhadap seorang tokoh ulama NU, Habib Luthfi.[6] Maaher ditangkap polisi di kediamannya, Tanah Sareal, Bogor, pada 3 Desember 2020 oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri[7] dan ditetapkan sebagai tersangka usai pemeriksaan 1x24 jam, sebagai tindak lanjut atas laporan sebelumnya. Maaher disangka melanggar tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 45 ayat 2, juncto pasal 28 ayat 2, Undang-undang nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).[8] Tetapi akhirnya proses hukum tersebut dihentikan oleh pihak Kejaksaan negeri Bogor, melalui penerbitan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) pada 9 Februari 2021, sesuai dengan pernyataan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, karena Maaher meninggal dunia.[9] KematianMaaher meninggal dunia di ruang tahanan Mabes Polri pada 8 Februari 2021, karena menderita radang usus akut dan menurunnya kondisi kesehatan selama masa penahanan, setelah sebelumnya Maaher sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.[10] Sempat ada dugaan pelanggaran HAM terkait wafatnya Maaher dalam penahanan, sebagaimana permintaan klarifikasi Komnas HAM kepada pihak Kepolisian pada 10 Februari 2021,[11] tetapi pihak kepolisian membantah adanya dugaan pelanggaran HAM dan menyatakan bahwa Maaher meninggal dunia disebabkan karena sakit dan terkonfirmasi oleh Dokter.[12] Sebelumnya, kuasa hukum Maaher, Novel Bamukmin menyatakan bahwa Maaher menderita TB Usus akut sebelum meninggal dunia dan sempat menjalani perawatan atas infeksinya tersebut.[13] Sesuai dengan permintaan keluarga, Maaher dikebumikan di pemakaman Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an milik Yusuf Mansur di Cipondoh, Tangerang, di samping makam Syekh Ali Jaber.[14][15] Referensi
|