Perang dagang Amerika Serikat–TiongkokPerang dagang Amerika Serikat–Tiongkok Amerika Serikat dan Cina adalah kekuatan utama dunia (terutama dalam faktor ekonomi). Persaingan antara Cina dan Amerika Serikat telah berdampak signifikan pada kedua negara dan dinamika geopolitik global. Hal ini terjadi karena kedua negara menerapkan tarif di berbagai komoditas sehingga berdampak pada berbagai sektor ekonomi di seluruh dunia yang disebut Trump sebagai “perang tarif”. Tarif yang berlaku di China dan Amerika Serikat telah menciptakan ketidakpastian ekonomi global dan berdampak pad a rantai pasok internasional. Pada 6 Juli 2018 Presiden AS Donald Trump memberlakukan bea masuk terhadap barang-barang Tiongkok senilai $34 miliar, yang kemudian menyebabkan Tiongkok membalas dengan tarif yang serupa terhadap produk-produk AS. Trump mengatakan bahwa bea tersebut diperlukan untuk melindungi keamanan nasional dan kekayaan intelektual bisnis AS, dan untuk membantu mengurangi defisit perdagangan AS dengan Tiongkok.[1][2] Trump pada bulan Agustus 2017 telah membuka penyelidikan resmi mengenai serangan terhadap kekayaan intelektual Amerika dan sekutu-sekutunya, pencurian yang telah merugikan Amerika sendiri sekitar $600 miliar per tahun.[3] Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok memiliki dampak yang besar terhdap dinamika politik global, sebab keduanya merupakan kekuatan utama dunia (terutama dalam faktor ekonomi). Hal ini terjadi karena kedua negara menerapkan tarif di berbagai komoditas sehingga berdampak pada berbagai sektor ekonomi di seluruh dunia yang disebut Trump sebagai “perang tarif”. Tarif yang berlaku di China dan Amerika Serikat telah menciptakan ketidakpastian ekonomi global dan berdampak pada rantai pasok internasional.[4] SejarahPengumuman tarifPresiden AS Donald Trump menandatangani sebuah memorandum pada 22 Maret 2018 menurut Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan 1974, serta memerintahkan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) untuk menerapkan bea masuk sebesar US$50 miliar terhadap barang-barang Tiongkok. Dalam sebuah pernyataan resmi, seperti yang disyaratkan oleh seksi tersebut, Trump mengatakan bahwa bea yang diusulkan adalah "respons terhadap praktik perdagangan Tiongkok yang tidak adil selama bertahun-tahun", termasuk pencurian kekayaan intelektual AS.[1][2] Pada 2 April, Kementerian Perdagangan Tiongkok mengenakan bea terhadap 128 produk AS termasuk potongan aluminium, pesawat terbang, mobil, produk daging babi, dan kedelai (yang memiliki tarif 25%), serta buah-buahan, kacang-kacangan, dan pipa baja (15%).[5][6] Keesokan harinya, USTR menerbitkan daftar lebih dari 1.300 kategori barang-barang impor Tiongkok senilai $50 miliar yang rencananya akan dikenakan bea, termasuk suku cadang pesawat, baterai, televisi layar datar, peralatan medis, satelit, dan senjata.[7][8][9] Sebagai pembalasan atas pengumuman itu, Tiongkok memberlakukan tambahan tarif 25% untuk pesawat, mobil, dan kedelai, yang merupakan ekspor pertanian utama AS ke Tiongkok.[6][10] Pada 5 April, Trump menginstruksikan USTR untuk mempertimbangkan tambahan pengenaan bea sebesar $100 miliar.[11][12] Presiden Trump membantah bahwa perselisihan tersebut adalah sebuah perang dagang, yang dinyatakan di Twitter pada April 2018, "kita telah lama kalah dalam perang itu karena ulah orang-orang bodoh, atau tidak kompeten, yang mewakili kepentingan AS ", dan menambahkan bahwa "sekarang kita mengalami defisit perdagangan $500 miliar per tahun, ditambah pencurian kekayaan intelektual sebesar $300 miliar per tahun. Kita tidak bisa membiarkan keadaan ini terus berlanjut!"[13][14] Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross menyatakah dalam sebuah wawancara CNBC bahwa tarif terhadap produk Tiongkok yang direncanakan hanya mencerminkan 0,3% dari produk domestik bruto AS, sementara Juru Bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders menyatakan bahwa langkah tersebut akan memiliki "rasa sakit jangka pendek" namun membawa "kesuksesan jangka panjang".[13][14][15][16] Dinamika Ekonomi yang TimbulPerang dagang antara dua kekuatan global ini telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap lanskap ekonomi dan politik global, khususnya di Asia Tenggara dan negara-negara anggota ASEAN serta banyak negara di dunia yang terkena dampak dari perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Selama satu dekade terakhir, propaganda kebijakan Amerika Serikat dalam perang dagangnya dengan Tiongkok telah mengganggu tatanan politik dan ekonomi di seluruh dunia. Dari sisi keuangan, kebijakan tersebut telah menyebabkan penurunan aktivitas perdagangan dengan mitra dagang AS, terutama Tiongkok, serta negara-negara lain yang terkena dampak perjanjian perdagangan.[17] Guncangan makroekonomi global semakin memperumit upaya menuju liberalisasi perdagangan impor, menghasilkan penyesuaian dan pergeseran yang memperkuat konsekuensi perdagangan.[18] Lihat juga
Referensi
|